Tinggal di kota pusat pendidikan dan kebudayaan seperti Jogja memberikan berbagai mecam kesempatan berharga untuk belajar berbagai macam hal. Saya pun rutin mengecek berbagai macam postingan di beberapa situs dan group facebook yang biasanya kerap berbagi informasi tentang suatu hal. Beruntung waktu itu mendapat info tentang akan diadakannya pameran foto arsitektur Masjid di Jerman oleh seorang fotografer asing. Dan pada rangkaian acara tersebut diadakan pula acara workshop sesama tiga hari bersama sang fotografer. Dalam benak saya jelas ini akan menjadi pengalaman yang benar benar baru. Apalagi yang mengadakan adalah organisasi asing. Tanpa pikir panjang langsung menyiapkan submission berupa CV dan contoh portfolio.
Alhamdulillah, setelah menunggu beberapa hari email balasan didapat beserta rundown acara. Jadi agak kaget melihat agenda acara adalah workshop berkeliling Gereja dan Pura di Jogja dan itu berlangsung selama 3 hari dari pagi dan sore!. Dalam bayangan saya sebelumnya acara akan seputar tips memotret arsitektur masjid. Dimana Willfried (nama fotografer) akan memaparkan hasil riset nya terhadap arsitektur masjid di jerman dan membandingkan dengan arsitektur di Indonesia dalam pendekatann fotografi. Ternyata setelah saya lihat kembali tajuk acara workshop dengan lebih teliti, tajuk acara adalah “Chirch and temple”. Sebagai muslim jadi agak ragu untuk mengikuti acara. Semangat awal untuk mengabadikan keindahan rumah ibadah kebanggaan umat menjadi bertolak belakang ketika nantinya akan selama tiga hari “safari” gereja dan pura. Akhirnya saya berusaha berpikir lebih genera dan dari sisi yang berbeda. Apalagi nama saya sudah tercantum sebagai salah satu peserta. UIN Kalijaga sebagai salah satu host acara ini pun pasti memiliki alasan memfasilitasi peserta untuk memoret Gereja dan Pura. Kalau di Jerman Wilfried berhasil memotret Masjid di sana dengan begitu indah nya sebagai sombol toleransi umat Kristiani di sana terhadap kaum minoritas muslim. Maka kali ini saya sebagai umat muslim di negara dengan Islam sebagai agama mayoritas diberi kepercayaan untuk memotret simbol toleransi terhadap kaum minoritas. Sehingga menunjukkan Islam pun adalah agama yang cinta damai dalam lingkup negara Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Sounds too far away to be thought before participating in such a workshop but at least saya jadi semakin mantap
Workshop berlangsung seperti biasa layaknya sebuah class. Hanya saja suasana sedikit berbeda karena materi disampaikan dalam bahasa Inggris. Hal yang berkesan pada pertemuan pertama adalah peserta itu sendiri. Peserta hanya 13 orang yang “terpilih”. Entah berapa sebenarnya jumlah pendaftar yang masuk dan bagaimana panitia menseleksi. Namun yang jelas kata panitia yang saya temui sehari sebelumnya, workshop ini memang dikemas ekslusif dengan tidak terlalu banyak peserta. Dan 13 peserta itu berasal dari berbagai macam kalangan yang tidak biasa saya temui di workshop foto seperti biasa. Contohnya mbak Elis dan Mbak Jim, yang berasal dari lembaga cross culture di UGM. Sepertinya mbak ini beberapa kali ke luar negeri. Untuk kepentingan exchange dan lain. Saya sempat dipameri beberapa hasil karya foto oleh oleh dari luar negeri. Cukup impress! Dua teman lagi adalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Mas Hari yang beberapa tahun kerja di pabrik pengelasan Nissan di jepang, dan Mas Joko yang kerja di kapal pesiar. Ada lagi teman peserta yang mahasiswa fotografi ISI, yang sempat mewakili kampusnya untuk menghadiri acara di luar negeri. Semakin salut liat karyanya yang keren abis. Pokoknya full inspirasi berada di antara mereka dan teman teman super lainnya.
Satu hal yang paling aku suka dari workshop ini adalah sistem evaluasi dan mentoring nya. 5 foto terbaik dari peserta dikumpulkan kepada Wilfried untuk kemudian beliau pelajari dan dibedah pada hari berikutnya di class. Disitu pula terjadi tanya jawab yang berlangsung dinamis antara peserta dengan Mr. Wilfried dikarenakan bahan diskusi yang berasal dari peserta itu sendiri.
Acara workshop selama 3 hari diakhiri dengan makan bersama di pantai depok. Puas rasanya ikut workshop kayak gini. Mewakili teman teman dalam ucapan terima kasih, kami sepakat bahwa ini adalah acara the Best Workshop we’ve attended EVER! Free Meal, Great Mentor, Free Transport and ended in a beach farewell dinner. Bahkan Mr.Wilfried mengatakan bahwa hasil foto kita sudah layak dan akan dijadikan buku, dan akan diusahakan untuk diusulkan diadakan pameran dari hasil karya. What an amazing! Thanks to Mbak Tina from Goethe, Mbak Valens, Mas Yunus. Kami Puass, terutama sama Cumi cumi, kerang dan Ikan bakarnya
)
















