August 13, 2010 5

3 Paradoks Ramadhan

By in Islami, Ramadhan 1431H

IMG_7879

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang dinanti nanti oleh umat muslim di seluruh dunia. Namun setelah kehadirannya pada kenyataannya tidak semua umat muslim melaksanakan dengan sebaik baiknya. Paling tidak terdapat tiga fenomena yang muncul di tengah tengah masyarakat.

1. Sikap Ignore, Tidak Concern dan Tidak Peduli

Ramadhan sejatinya adalah kesempatan bagi manusia untuk Penyucian Jiwa ( Tazkiyatun-nafs ) dan Pengembangan Diri (T?wyr adh-Dh?t). Kedatangannya pun selalu dinanti. Bahkan istilah Marhaban Ya Ramadhan mucul pada jaman nabi untuk menyambut bulan yang suci ini. Namun Ramadhan yang identik dengan rasa lapar, haus, dahaga membuat ada pula golongan orang yang tidak menyambut dengan sukacita bahkan cenderung apatis.

2. Perilaku Konsumtif

Waktu untuk sahur diakhiri dengan waktu imsak. Imsak yang artinya menahan hendaknya tidak hanya diartikan untuk menahan tidak melanjutkan makan dan minum saat sahur. Namun lebih dari itu imsak sejatinya menahan diri dari segala perilaku yang mengumbar hawa nafsu termasuk perilaku konsumtif. Banyak fenomena terjadi di masyarakat. Bulan Ramadhan yang sejatinya sarana pengendalian diri, tidak jarang malah membuat pengeluaran bertambah. Jatah makan 3 kali sehari menjadi hanya 2 kali sehari tidak lantas membuat budaya hemat. Karena euphoria berbuka membuat apa yang dihidangkan tidak jarang melebihi apa yang dibutuhkan, jauh melebihi dari rutinitas makan sehari hari di luar ramadhan.

3. Bermalas malasan

Kita mungkin sering mendengar sebuah hadist “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”. Hadist ini dijadikan dasar bagi banyak orang untuk bermalas melasan dengan tidur sebanyak banyaknya di bulan Ramadhan. Namun masalahnya banyak diantara kita yang melaksanakannya secara ekstrim. Banyak pekerjaan yang sejatinya juga merupakan ibadah asal dengan niat di JalanNya yang pada akhirnya terbengkalai.

IMG_7870

Masih banyak lagi jika kita cari fenomena paradoks yang terjadi di sekitar kita. Hendaknya tiga topik tadi menjadikan bahan evaluasi bagi kita untuk berbenah diri. Sehingga manfaat Ramadhan akan lebih terasa. Untuk kepentingan penyucian diri dan pengembangan pribadi kita menjadi insan Muslim. Yang lebih baik.

*Merangkum dari Ceramah Ba’da Isya oleh Prof.Dr.Din Syamsudin, MA di Masjid Kampus UGM tanggal 2 Ramadhan 1431H

Tags: , ,

5 Responses to “3 Paradoks Ramadhan”

  1. wahyu says:

    Tausiyah yang luar biasa dalam bulan ramadhan ini. Sesuai dengan keadaan bangsa saat ini. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan dapat mengubah kebiasaan ini menjadi kebiasaan yang lebih baik.

  2. dipdip says:

    hm…bener bgt..aku jadi konsumtif…tapi kali ini konsumtifnya untuk bipo,,, >_<

  3. cendhika says:

    @wahyu : Amien.. kembali ke pribadi kita masing masing akh ^^
    @dipdip : bipo suruh puasa >:D

  4. dipdip says:

    hahaha…emoh…kasihan…
    dia dalam proses penggendutan kok…hehe..

  5. cendhika says:

    ya ntar nunggu si bipo 7 tahun.. ntar dipukul aja kalo gak mau puasa ;p

Leave a Reply


− 8 = 1