July 8, 2011 0

Mendadak ke Madiun

By in Blog, Kuliner, Trip

Punya mobil sendiri emang asik. Urusan kemana mana jadi semakin lancar dan menyenangkan. Tidak perlu lagi takut kepanasan apalagi masuk angin. Urusan antar mengantar anggota keluarga pun kerap saya lakukan dengan senang hati. Kali ini dapat tugas mengantar kakak ipar untuk ke madiun menghadap ke batalyon 501 untuk meminta ijin personilnya menjadi petugas pedangpora di acara pernikahannya bersama di kakak tanggal 12 Juli mendatang.

Kami singgah sementara di rumah junior kakak ipar. Jangankan saya, kakak ipar saya pun tidak saling kenal. Namun beginilah kehidupan tentara. Ketika ada senior datang, siapapun itu, pernah tidak bertemu, senior tetap senior. Sambutan hangat pun diberikan, walaupun ala kadarnya. Alhamdulillah kami ada tempat singgah.

Hingga saatnya bosan menghadap. Sang komandan yang dinanti masih ada keperluan. Jadilah kami menunggu dengan waktu yang tak terbatas. Hingga akhirnya kakak ipar tertidur setelah sebelumnya meminta ijin untuk istirahat dikarenakan sebelumnya belum sempat tidur. Saya yang sudah punya sedikit keinginan untuk jalan jalan pun semakin niat untuk cabut ketika tidak ada hal menarik yang bisa saya kerjakan.

Mumpung di madiun, berbekal GPS dan si matic. Jadilah berkeliling madiun seorang diri.. lets rolling arround buddy! *tuit tuit* (suara alarm mobil). Langkah pertama jelas meregistrasi lokasi Batalyon 501 yang sedang saya tempati saat ini. Alasannya mudah, sehingga sejauh dan serumit apa saya berkeliling, selalu mudah untuk kembali ke lokasi. Langkah kedua mencari tempat berteduh di terik matahari seperti ini. Apalagi kalo bukan ngisis di mall. Searching di GPS, ada beberapa pilihan mall. Dan hampir kesemuanya berada di jalan yang sama, jalan pahlawan. Cap cuuuusssss… ;)

Puas ngemall (gak belanja apa apa cuman mampir pijit di kursi pemijat). Destinasi kedua adalah mencari masjid agung terdekat. Untuk ukuran kotamadya, pasti selalu ada masjid besar di dekat alun alun. Tidak sulit mencar kalun alun, cukup mengikuti rambu rambu yang memang sudah cukup jelas.

Sampailah di alun alun Madiun. Dari kejauhan menara masjid sudah kelihatan. Kubahnya yang warna warni membuat saya semakin bersemangat untuk segera menuju sana dan menunaikan ibadah shalat sembari menikmati dan mengabadikan arsitektur masjjid. EOS 5DMkII + fish eye 15mm is on hand, then let’s hunt some :) .

Walaupun arsitektur masjid tampak modern sekali dari luar, namun interior bagian dalam nampak bahwa bagunan ini sejatinya adalah bangunan klasik yang sudah berdiri lama.

Selesai shalat kemudian saya jalan jalan ke alun alun.

Ingin rasanya mencicipi makanan khas PKL seperti bakso, siomay, soto, dll. Namun rasanya ingin menghemat space di perut ini untuk diisi dengan makanan khas madiun. Apalagi kalau bukan pecel! yak peeeecel! wait!! sepertinya ada yang aneh.. sepanjang perjalanan sepertinya saya tidak menemukan bakul pecel sedikitpun. Lantas dimanakan saya bisa menemukan nasi pecel?

Pertanyaan saya terjawab setelah mendapat petunjuk dari juru parkir. Rupanya pecel di madiun memang terkonsentrasi pada sebuah jalan. Ada lebih dari 5 warung pecel. Tapi pasti ada salah satu yang paling enak. Dan menurut tukang becak, pecel pojok jawabannya. Sampai sana, ternyata masih tutup saudara saudara, jadilah saya ngobrol dengan tukang parkirnya. Dan ternyata semua pecel di sini enak. Brand khasnya, kalo pecel 99 langganannya pak Sby, kalau pecel samping pecel pojok ini, langganannya Pak harmoko dulu, nah kalo pecel pojok? baru saja kemaren Uya Kuya habis mampir dari sini. Rupanya emang kebanggaan rumah makan terletak pada figur yang memilihnya. Namun bagi saya, keyakinan pecel pojok termasuk paling enak adalah karena pilihan lauknya. Lihat saja..

Habis kenyang saatnya pulang.. :D thanks for reading.. nantikan perjalanan berikutnya (yang mungkin juga dadakan).

Leave a Reply


8 − = 6