August 8, 2011 2

Mbolang Ke Semarang (part-2)

By in Blog, Budaya, Ramadhan 1432H, Trip

Perjalanan mbolang ke Semarang berlanjut, setelah waktu berbuka kami lantas Shalat Magrib. Hanya bisa berbuka dengan air putih dikarenakan sepertinya kami tidak kebagian takjil. Memang sejak awal tidak berniat untuk makan di masjid. Karena tidak lengkap rasanya pergi ke suatu kota tanpa mengicipi makanan khas nya. Yay! Lumpia dan Bandeng Presto khas Semarang (kecuali menu takjil adalah lumpia atau bandeng presto, tapi sepertinya tidak). Menurut informasi dari ibu ibu yang kami tanya di Masjid, pusat oleh oleh khas semarang berada di Jalan Pandanaran. Tanpa menunggu berlama lama, kami segera menuju jalan yang dituju untuk berbelanja oleh oleh sekaligus mencari makan buka. Cap cusss..

Bandeng Presto dan Lumpia

Benar memang, Jalan pandanaran ini sepertinya jantung ekonomi kota semarang. Berbagai macam toko berjubel di sepanjang jalan ini. Tidak sulit mencari toko yang menjual lumpia dan bandeng, bahkan bisa jadi bingung karena saking banyaknya pilihan. Akhirnya dipilih yang parkirnya agak luas dan kebetulan di samping toko bandeng tersebut ada toko lumpia.

Bandeng dijual per kg dengan kemasan kotak profesional. Harga satu kotak ini Rp 60ribuan. Cukup mahal..  Beli satu untuk oleh oleh sekaligus bekal sahur dan berbuka keluarga di Jogja. Lantas lanjut untuk beli lumpia.

Ada berbagai macam rasa (dan harga) paling murah lumpia isi ayam,Rp 6.000 paling mahal isi macam macam (kepiting, udang, ayam) Rp 10.000 untuk 1(satu) biji! Kita bisa memilih digoreng matang atau setengah matang(untuk oleh oleh yang ingin digoreng lagi) atau bahkan mentah. Cuman kalau mentah daya tahan lumpia hanya 24jam.

Setelah belanja lumpia saatnya cari makan. Sengaja tidak makan lumpia karena menghemat perut untuk makan nasi. Lagian ni lumpia minyaknya buanyak bgt. Jelas bikin gak enak perut dan tenggorokan kalo buka langsung (minum) berminyak.

Lantas lanjut mencari nasi untuk berbuka. Tidak sulit mencari tipe tempat makan yang enak. Indikator paling mujarab adalah keramaian tempat makanan tersebut. Semakin ramai semakin enak (atau murah) syukur syukur udah enak, murah lagi. Akhirnya nemu warung makan ayam goreng yang ramai (sepertinya enak). Dan ternyata emang menggoda selera.. hmmm

Rupanya ini ayam kampung dengan ayam yang masih kecil kecil. Bisa ditebak, gigitannya pasti empuuk. Penyajuannya pun cukup unik untuk 3 orang , penjual menyajikan 3pasang potongan ayam dan rempelo ati. Dipikir emang satu porsi 2pasang, Tapi ternyata ujung nya kita suruh bayar untuk 6 porsi ayam. Tidak rakus, karena emang 3 potong ayam kita sisihkan untuk dibungkus bekal sahur. Untuk 6 ayam + 9 nasi(3 dibungkus) dan air minum kita wajib membayar Rp 136ribuan! lumayan juga ya..

Gedung Lawang Sewu..

Sudah kenyang saatnya lanjut perjalanan. Melewati simpang lima yang macet parah! Tujuan jelas ke masjid untuk menunaikan Shalat isya + taraweh. Tapi rupanya tidak sempat dikarenakan waktu kita terlalu banyak terbuang di jalan. Mengejar shalat taraweh di Masjid jelas gak mungkin, dengan (niat) semangat untuk taraweh bertiga sendiri sesampainya di masjid nanti, kami memutuskan untuk mengunjungi lawang sewu di malam hari.. sempet rada pesimis gara gara walaupun banyak banget remaja remaja yang nongkrong di sekitar tapi kompleks lawang sewu kayaknya sepi..

Penasaran kami terjawab setelah mobil diarahkan oleh tukang parkir. Ternyata lawang sewu masih buka bahkan sampe jam 12 malam. Nah lo.. sekarang malah ngerasa kurang malam ke sini.. wkwk.. langsung masuk dah..

Setiap kepala dikenakan biaya Rp 10.000 kecuali anda masuk tanpa kepala gratis (karena ini emang rumah makhluk tanpa kepala) –> just kidding. Nah biaya itu tidak cukup karena jasa pemandu Rp 30.000 per kelompok (15 orang an). Uniknya kita tidak boleh masuk tanpa pemandu. Saya sendiri lebih condong untuk mengabadikan keindahan lawang sewu bukan untuk mendengar sejarahnya (baca di internet aja udah cukup kayakke) tapi ada untungnya juga pake pemandu, lagian gak bakal berani masuk masuk ke dalam kalo gak ada yang bener bener kenal daerah sini. Well this is it! the photos, all photo were fresh from camera (just resized).

Adakah yang menyangka pohon mangga bisa tumbuh sebesar ini..?

Satu satunya ruangan di lawang sewu yang diberi lampu yang terang dan digunakan sebagai sumber informasi tertulis.

Saat yang paling menarik, masuk ke dalam gedung yang gelap gulita dan hanya diterangi lampu senter pemandu! yay!

Langsung menuju ke balkon lantai 2

Jumlah ruangan dan pintu yang sangat banyak.

Pintu berjajar yang sangat banyak membuat seperti lorong puntu tak berujung.. Oh ya ini lokasi salah satu scene di film Ayat Ayat Cinta.. scene yang mana ada yang tau?? :D

Bagian dalam salah satu ruangan di lawang sewu.. tempat pertemuan dan lantai dansa.. Kayaknya ada yang lagi dansa tuh..

Sisi lain di balkon lantai atas

Dari sini kita bisa melihat parit di bagian bawah. Ada yang tau fungsi parit ini di jaman dulu? tempat pembuangan mayat..

lanjut ke dalam, kami diajak oleh pemandu ke kamar mandi peninggalan jaman dulu.. jujur ni tempet paling seremmm.. Paling istimewa wastafel dan tempat kencing laki laki bener bener peninggalan made in Belanda. Konon ada yang pernah menawar perangkat kuno ini seharga mobil.

Lanjut turun ke bawah.. tangga nya hemat banget.. kecil kecil, harus ekstra hati hati apalagi gelap..

Nah ini dia pintu masuk ke “wahana utama” dari lawang sewu. Lorong ruangan bawah tanah, pengen tau isinya? penjara dan tempat pemasungan.. well.. untuk masuk ke sana kita dikenakan biaya Rp 10.000 per orang lagi. Pengunjung pun wajib mengenakan sepatu boot dikarenakan tempat yang becek. Sounds so spooky, isn’t it? Kami mengurungkan niat.. bukan karena gak berani.. kondisi badan udah capek.. di ruangan lembab gitu kayakke kok rawan kuman.. lagian foto foto gak bakal maksimal kalo malam.. pengen lain kali ke sini lagi :) .

Sebelum pulang, kami sempatkan untuk foto foto di depan.. sambil maenan lampu lampu strobist biar tambah keren ;p.

Okkay.. sekian di lawang sewu.. nantikan postingan berikutnya melihat keindahan kota Semarang dari atas dataran tinggi.. so stay tuned brother and sister :) . Thank u ;)

Tags: , , ,

2 Responses to “Mbolang Ke Semarang (part-2)”

  1. idaMoon says:

    HOror,spooky bgt dah..malem2 sih yaah kesitunya,ahaha.but anyway,foto2nya bnr2 awesome brader,yeay!:D

  2. cendhika says:

    iya mun.. ni aja belum ke lorong bawah tanah nya.. pengen sometime ke sana lagi bawa kamera infra merah.. hiihihihi

Leave a Reply