July 18, 2013 7

Tips Memotret Produk

By in Fotografi, Gadget, Tips

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk membuat hasil foto lebih bagus dan menarik. Apalagi untuk memotret produk berupa benda dengan ukuran yang relatif tidak besar. Ada beberapa teknik sederhana yang bisa digunakan namun dengan hasil yang tidak kalah dengan hasil foto produk di studio dengan perlengkapan lighting yang mahal.

Tips sederhana ini akan mencoba untuk memotret sebuah produk mouse Gaming dari Logitech, G500s yang belum lama ini di launching. Desain yang sleek, dengan permukaan kontur grip yang bertekstur dan lampu led indikator dpi resolution yang atraktif merupakan tantangan tersendiri dalam proses pemotretan nanti. Harapannya, foto yang dihasilkan bisa merepresentasikan segala keunggulan dari mouse ini dalam sisi yang berbeda (dibanding foto produk marketing pada umumnya). Namun sebelum memulai tips kali ini, terlebih dahulu akan dijelaskan kesalahan kesalahan umum yang terjadi dalam memotret produk sehingga hasil kurang maksimal :

Kesalahan Umum dari Memotret Produk

1. Mode Auto menggunakan flash

Penggunakan default flash pada kamera akan memberikan hasil yang kurang bagus pada semua pemotretan. Light Source yang kecil ditambah arah cahaya yang direct membuat foto nampak flat dan kurang berdimensi. Tekstur di depan pun terlihat jelas dan menyolok karena rasio cahaya yang tidak rata pada keseluruhan bagian.

2. Mode Auto menggunakan no flash
Tidak menggunakan flash mungkin merupakan pilihan yang tepat. Namun jika kondisi cahaya kurang (seperti ketika memotret di dalam ruangan), kamera secara auto akan menset shutter speed ke kecepatan rendah, yang menyebabkan gambar akan blur karena goncangan dari tangan (sekecil apapun itu).

Cara yang paling sederhana namun kebanyakan orang malas atau bahkan blm mengerti  adalah dengan cara meminimalisir guncangan menggunakan tripod.

Walaupun agak merepotkan karena harus menset tripod dan kurang praktis jika dibandingkan dengan memotret handheld, namun hasil yang didapat akan jauh berbeda. Terlebih jika kita juga menset parameter lain seperti diafragma.
Pada kamera DSLR atau semipro yang terdapat pengaturan manual, hasil foto yang lebih tajam didapat dengan pengaturan diafragma yang besar. Untuk kamera DLSR, diafragma umumnya bisa diset sampai angka f22 (untuk lensa tertentu bisa sampai f32). Diafragma/ f number ini berperan dalam mengatur DOF (depth of field) dari foto. Semakin besar bukaan diafragma (bilangan kecil e.g f/2,8) DOF akan semakin sempit, yang menyebabkan foto akan fokus di bagian tertentu saja (blur/bokeh).

Karena obyek yang difoto adalah berupa produk, maka detail yang tinggi diperlukan. DOF yang sempit dengan bukaan kecil (f besar) menjadi kuncinya. Pada pemotretan dengan bukaan paling sempit (f22) / ISO 400, kamera membutuhkan 8 detik untuk mendapatkan cahaya yang cukup dengan pencahayan di dalam ruangan (semakin sempit diafragma, kamera membutuhkan semakin banyak waktu untuk menghasilkan gambar dengan pencahayaan yang tepat).

Setelah kamera terpasang di tripod, diafragma di set ke maksimal, iso dan speed sudah disesuaikan dengan kondisi cahaya saat itu, ada satu lagi tips yang membuat gambar kita lebih tajam. Tanpa kita sadari, goncangan sekecil apapun saat proses menekan shutter pada kamera juga berefek pada ketajaman gambar. Untuk mengurangi dampak tersebut, kita bisa menggunakan mode self timer. Sehingga goncangan saat menekan shutter terjadi di awal dan tidak terjadi bersamaan dengan saat kamera merekam gambar.

Teknik no flash tadi adalah teknik paling sederhana yang bisa diterapkan di pemotretan indoor. Ringkasan dari teknik di atas untuk mendapatkan foto yang oke adalah :

  1. Gunakan Tripod
  2. Setting kamera menggunakana diagragma sempit (f besar)
  3. Gunakan Self-Timer

Hanya dengan menggunakan ketiga teknik di atas, foto produk mungkin akan jauh lebih bagus dibanding dengan menggunakan auto flash maupun handheld.

Light Painting

Teknik berikutnya yang lebih advanced untuk mendapatkan foto produk yang lebih kreatif adalah dengan secara aktif memanipulasi pencahayaan pada obyek. Teknik ini dikenal dengan nama light painting. Dengan teknik ini, kita bisa mendapatkan foto layaknya diambil di studio walaupun dengan perlengkapan yang sangat sederhana. Yang kita butuhkan hanyalah lampu senter putih atau sebuah lampu flash.

Pada kesempatan ini, saya menggunakan sebuah lampu senter police (KW) dan sebuah flash YongNuo manual.

Teknik ini sebenarnya adalah kelanjutan dari teknik sebelumnya. Jadi selain tambahan senter/lampu flash, perlengkapan dan parameter di kamera yang digunakan hampir sama. Perbedaan utamanya adalah kalau pada teknik sebelumnya cahaya pada obyek yang akan kita foto diambil dari cahaya lampu ruangan dan pencahayaan saat itu, maka pada teknik ini cahaya ruangan diganti dengan pencahayan dari flash/senter. Kelebihan dari teknik ini selain kita bisa sesuka hati mengarahkan cahaya lampu, kita bisa mendapatkan isolated object photo, yakni foto dengan background polos karena sumber cahaya hanya diarahkan ke obyek.

Setting kamera tetap menggunakan diafragma besar, hanya ada perbedaan iso dan shutter speed. Karena hendak mendapatkan gambar dengan background gelap, maka kamera diset supaya cahaya kamar tidak cukup untuk menerangi obyek, dan ketika dipotret, hasil gambar gelap. Sehingga nantinya kita akan mempunyai kontrol penuh terhadap arah dan intensitas cahaya yang akan mengenai obyek dengan menggunakan senter/flash. Setelah beberapa kali percobaan, didapat setting 10″ di f/22 dan ISO 200. Tidak lupa self timer diset untuk meminimalisir guncangan.

Setelah shutter kamera ditekan, selama 10 detik kamera akan merekam gambar. Kesempatan itulah yang digunakan untuk memberikan efek cahaya ke dalam obyek. Ketika menggunakan flash, sebuah karton dililitkan di ujung flash (snoot). Hal ini bertujuan supaya sinar dari flash lebih terpusat dan tidak menyebar ke segala arah. Dalam waktu 10 detik, cahya ditembakkan dari flash sebanyak 7-9 kali dari berbagai arah.

Selain menggunakan flash, light painting juga bisa dilakukan dengan menggunakan lampu senter putih. Keunggulan dengan menggunakan lampu senter dibanding dengan flash adalah kemudahan kontrol arah cahaya dikarenakan sinar continous yang dihasilkan. Selain itu, untuk obyek dengan bidang permukaan yang reflektif terhadap cahaya seperti plastic glossy, penggunaan flash akan rawan menimbulkan refleksi hotspot flash yang menyebabkan cahaya tampak tidak rata. Pada senter, hotspot lebih minim. Kelemahan menggunakan senter mungkin adalah cahayanya yang tidak sekuat lampu flash.

Setelah beberapa kali percobaan, ini lah hasil yang didapatkan. Sebuah foto mouse gaming dengan pencahayaan kreatif.

Foto ini diambil dengan menggunakan pencahayaan senter. Senter diarahkan dari sisi kiri, kanan, atas dan belakang. Untuk pencahayaan yang dramatis, pencahayaan pada area obyek yang tepat menghadap kamera sebaiknya dikurangi. Karena rasio cahaya yang lebih terang di permukaan yang menghadap kamera akan membuat obyek tampak flat (sama seperti ketika menggunakan flash bawaan kamera), sebaliknya cahaya dari arah belakang dan samping sebaiknya dikuatkan sehingga meniumbulkan dimensi pada obyek yang difoto.

Foto tersebut diambil dengan menggunakan kamera fullframe EOS 5DMarkII dan lensa 24-70. Walaupun foto ini diambil dengan kamera profesional, namun bukan berarti pengguna kamera non dslr tidak mampu mendapatkan hasil yang serupa. Semua kamera yang memiliki pengaturan manual bisa digunakan untuk pemotretan dengan teknik seperti ini.

Menggunakan Kamera Pocket SemiPro

Untuk membuktikannya pernyataan sebelumnya, pada tips berikut, akan digunakan kamera pocket prosumer Canon G15. Salah satu dari sekian kamera pocket yang memiliki pengaturan manual.

Pemotretan pertama menggunakan mode manual tanpa flash. Setelah kamera di tempat kan di tripod, langkah berikutnya adalah melakukan pengaturan pada setting kamera. Seperti dijelaskan di awal, kunci dari gambar yang tajam dengan DOF yang luas terletak pada diafragma yang besar (sempit). Pada kamera G15, diafragma maksimal nya adalah f/8. Sehingga berikutnya adalah melakukan pengaturan ISO agar gambar tajam dan jernih. Gambar yang penuh noise (bintik bintik) biasanya diakibatkan penggunaan ISO yang tinggi. Secara otomatis, biasanya kamera akan menset ISO ke posisi tinggi pada pemotretan di indoor tanpa flash untuk menghindari gambar shake/blur akibat speed yang kurang. Untuk itu set manual ISO ke posisi 200 dan biarkan kamera secara otomatis mengkalkulasi speed yang dibutuhkan dengan menggunakan mode AV (apperture value). Hasil yang didapatkan adalah seperti ini :

Hanya dengan bermodalkan tripod dan pengetahuan akan pengaturan setting kamera, hasil kamera pocket prosumer bisa dikatakan setara dengan hasil dari kamera DLSR Professional. Kuncinya terletak pada ISO dan diafragma. Bahkan untuk kamera pocket tanpa kemampuan pengaturan manual pun, hanya dengan mengatur ISO ke posisi minimal dan memotret menggunakan tripod hasilnya akan jauh lebih tajam dibandingkan tanpa menggunakan tripod.

Hal lain yang bisa dicoba untuk mendapatkan hasil foto yang berbeda dari kamera pocket adalah penggunaan zoom. Foto di atas diambil dengan menggunakan Zoom “Optical” Maksimal dari kamera. Jika kamera pocket dilengkapi dengan zoom optical (ditandai dengan maju mundurnya lensa pada kamera), bisa dicoba untuk memotret dengan zoom optical terjauhnya. Efek dari penggunaan focal length panjang (zoom) dari kamera adalah gambar yang dihasilkan menjadi minim distorsi. Sehingga foto produk akan terlihat lebih proporsional dan menarik. Namun jangan sampai salah untuk menggunakan zoom digital (perbesaran gambar). Karena zoom digital hanya akan membuat kualitas gambar menjadi menurun.

Setelah mendapatkan hasil maksimal dengan tanpa flash, selanjutnya akan dicoba untuk melakukan teknik lightpainting. Dikarenakan pada kamera G15 diafragma maksimal hanya f/8, maka ISO harus diturunkan agar hasil tidak terlalu terang. Didapatkan ISO 80. Sedang untuk shutter speed didapat settingan 8 detik. Perlu diingat bahwa settingan ini menyesuaikan keadaan cahaya ambient saat pemotretan, untuk pemotretan pada ruangan dengan keadaan cahaya lebih gelap atau terang mungkin settingan akan berbeda.

Foto dengan teknik lightpainting di atas didapat dengan menggunakan beberapa kali tembakan lampu flash pada berbagai arah. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil dari kamera DSLR, bahkan mungkin susah untuk membedakan hasil antara kedua kamera karena tingkat ketajaman yang relatif hampir sama.

Tidak hanya terpaku pada eksperiment terhadap pencahayaan saja, merubah posisi obyek juga akan memberikan hasil yang berbeda.

Sekian tips memotret produk menggunakan teknik light painting. Sebuah teknik sederhana yang memanfaatkan fitur slowspeed dari kamera dengan menggunakan sumber cahaya sederhana. Semoga bermanfaat! :)

Ukuran foto yang lebih besar, bisa didownload di sini. Cocok juga buat wallpaper desktop :D

Tags: , , , , ,

7 Responses to “Tips Memotret Produk”

  1. agus says:

    Ato cen bikin tutor vidnya di channel yusuf (youtube.com)

  2. Mantap gan tutorialnya. Boleh dicoba yang ini…

  3. penjelasan yang sangat detail.,boleh nih buat coba :D
    salam kenal bang saya dari http://www.titikfokuskamera.com

  4. boleh di coba nih tutorialnya

  5. Kaharudin says:

    Keren gan hasilnya. ane ada nih produk yang mau d foto2in. menerima job nggak gan?
    email ane: zamronikaharudin@gmail.com

  6. Terima kasih buat tutorialnya.. Tips memotretnya mudah dipahami.. Sangat membantu banget dalam pembuatan project saya..

Leave a Reply


3 − 1 =