August 18, 2013 1

Extraordinary Offroad Experience

By in Blog

Siapa yang menyangka keinginan untuk bersenang senang dan berpetualang di pantai, tempat favorit yang biasa kita kunjungi untuk hunting sunset dan motret bintang bersama teman teman berubah 180 derajat menjadi pengalaman yang mencekam. Pengalaman berhadapan dengan perubahan alam yang membuat derajat kepanikan yang semakin tinggi seiring dengan waktu. Sebuah pengalaman berharga yang mengajarkan bahwa manusia tidak punya kuasa apapun terhadap alam.

 

Adventure.. seperti halnya laki laki pada umumnya. Keinginan untuk melakukan suatu hal yang laki banget jelas ada. Entah karena game game perang militer yang baru saya mainkan atau apa. Tapi yang jelas liat hardtop canvas warna krem milik om yang belum lama ini di permak ulang dan banyak nganggurnya, rasanya pantat sama tangan ini pengen beranjak dari meja kerja dan berpetualang layaknya iklan salah satu rokok yang sering diputar di tivi. “My life my adventure..” tsah! Kebetulan udah beberapa minggu belakangan ini sejak cuaca sering tidak bersahabat saya dan temen temen udah lama banget tidak keluar jalan bareng.Berhubung cuaca bagus, tanpa pikir panjang, saya nawarkan ke temen temen lain, Bhaguz, Andi, Feriansyah, Arya, Khusnun untuk mencoba pengalaman baru. Tanpa cas cis cus, siang hari nya kita udah berkumpul di rumah. Dulu udah pernah sih merasakan pengalaman naik jeep menyusuri bekas aliran lahar merapi di cangkringan. Hanya saja waktu itu harus cukup puas hanya sebagai penumpang. Jadi berhubung ada kesempatan untuk bawa mobil sendiri, kami pun ga melewatkannya. Habis pamitan dan foto foto sebentar di depan rumah, kami pun siap untuk berangkat! Wohoo we’re so excited to drive a 4×4 by ourself!

Sepanjang perjalanan, kita udah merasakan sensasi yang cukup berbeda dari perjalanan kita selama ini. Mobil emang setengah terbuka dan cukup jadi pusat perhatian terutama ketika di lampu merah. Mungkin pikir orang orang ini rombongan boyband mau konser di mana kok pake mobil bak..?Tapi yang jelas tingkat kesulitan mengendarai mobil kayak gini bisa dibilang cukup lebih sulit dibanding pake mobil automatic (ya iyalah). Dari jarak pandang yang semakin tinggi, tingkat kestabilan mobil yang kurang saat di kecepatan agak tinggi, perpindahan transmisi yang cukup susah, sampai raungan dan panas mesin yang cukup terasa. Belum lagi sensasi mobil yang belok otomatis ke kanan ketika rem diinjak karena rem nya tidak seimbang. Cukup membuat beberapa teman teman berteriak ketika harus mendadak menginjak rem dan hampir menyerempet kendaraan di samping kanan. Apalagi ketika harus mendahului mobil di depan. Dari yang awalnya cukup pede untuk nggeber gas, akhirnya gelagepan sendiri ketika mobil udah goyang goyang ga karuan dan bikin cukup kesulitan untuk menjaga kestabilan mobil di kecepatan tinggi. Salah salah bukannya offroad di pantai yang ada malah nyungsep di sungai. Cukup susah emang, tapi memacu adrenaline juga, at least sebagai pemanasan untuk pengalaman memacu adrenaline yang sebenarnya.. yang sebenarnya.. yang se-be-nar-nya..

Yak! sampai juga di pertigaan pantai parangtritis. Kami memilih untuk belok ke kanan menuju arah pantai depok. Arah tujuan kami awalnya adalah pasir gumuk. Bayangan kami bakal seru banget untuk nggeber mobil di padang pasir. Dari pemandangan jelas oke, dari segi keamanan jelas lebih safety karena pasir yang empuk :P . Tapi belum sempat kami bermain di tengah pasir gumuk, mobil udah ga mau diajak masuk ke lokasi karena permukaan tanah yang terlalu gembur. Hmmm.. ternyata pasir empuk bukan lantas off road jadi lebih mudah. Malahan jadi makin susah gara gara traksi yang loss.

Gagal off road di padang pasir, kami lantas menuju pantai. Lokasi pantai terdekat jelas pantai depok. Mungkin yang ada di bayangan kami saat itu tidak lain adalah rombongan cowo keren, naik hardtop menyusuri pinggir pantai di sore hari sambil merasakan hembusan angin, bermelodikan deburan ombak, bermandikan cahaya matahari keemasan, tersegarkan percikan air pantai.. dan tiba tiba “nguuuuukkkkk”, belum selesai kami berangan angan yang lebay, hartop udah ga mau diajak masuk ke pantai. Masalah yang sama seperti ketika di pasir gumuk. Roda hartop cuman spinning ga mau jalan gara gara permukaan pasir yang terlalu gembur. Hmmm, kayaknya ga mungkin kalo medan kayak gini hartop udah ga mau diajak masuk. Eh baru ingat kalo yang bikin hartop unggul di segala medan darat adalah sistem penggerakk roda 4×4 nya. Dan ternyata benar, setelah diubah mode sistem gardannya ke 4×4 dengan oper tuas ke sisi kiri, hardtop lancar jalan masuk ke pantai.

Hmm.. ternyata offroad di pantai tidak semudah yang saya bayangkan. Bahkan tingkat kesulitannya mungkin relatif lebih tinggi dibanding dengan offroad di medan terjal macam sungai. Walaupun medan landai dan lapang, tapi permukaan pasir pantai yang gembur bikin acara offroad jadi kayak acara menggali pasir pantai. Sulit rasanya untuk bisa berjalan stabil dan konstan, yang ada ban spinning dan hardtop berjalan pelan karena traksi yang loss. Bahkan di tengah perjalanan mesin hartop sempat mati dan ga mau distrarter lagi. Daripada pusing mikir hartop yang macet, kami akhirnya foto foto dulu dengan harapan hartop mau kembali distarter setelah didiamkan beberapa saat.

Grengggg! Alhamdulillah! hartop mau nyala dalam sekali starter. Saat itu jam masih menunjukkan sekitar pukul 5. Rasanya belum seru kalau tidak foto sunset terlebih dahulu. Akhirnya saya lantas mengubah posisi hartop dan kembali iseng iseng foto foto sambil nunggu matahari tenggelam.

Ternyata sunset tidak begitu bagus. Matahari tertutup mendung yang rata. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan mengakhiri acara offroad kali ini. Sedikit kecemasan kemudian timbul setelah saya berulang kali mencoba menstater hartop namun gagal. Teman teman yang sudah duduk tenang kemudian ikut sedikit panik mengingat matahari sudah mulai tenggelam. Awalnya kami hanya berusaha tenang karena sebelumnya juga sempat tidak mau distarter dan kemudian mau nyala kembali setelah didiamkan beberapa saat. Namun setelah 10 menitan menunggu, hartop tetap tidak mau nyala. Kami mulai agak gelisah, mengingat pantai pun sudah mulai sepi dan suasana sudah gelap. Terlebih kami tidak punya penerangan. Kekhawatiran kami terbesar mungkin saat itu adalah tidak bisa pulang karena alat transportasi kita yang macet. Sempat kepikiran untuk mengganti acara menjadi acara bermalam di pantai sambil mengupayakan bantuan esok hari mengingat mustahil mencari bengkel yang masih buka di malam hari. Namun sesaat kekhawatiran kami bertambah mengingat permukaan air laut yang jelas akan semakin naik seiring waktu. Iseng iseng saya bertanya kepada ibu ibu penjaga warung tentang ketinggian air laut di puncak pasang bila mana memungkinkan kita memarkir hartop di pantai sambil menunggu esok hari. “Wah, ini pas pasang pasang nya je mas.. air laut bisa sampe depan warung mas.. “.. what?? ciyus?? bukannya ini lagi new moon ya, yang berarti bulan ga nongol dan gravitasi bulan tidak begitu berpengaruh sehingga air laut pun tidak mungkin pasang mencapai puncaknya, nah ini ibu malah bilang lagi pasang pasangnya?? whatever lah, yang jelas ibu ini yang lebih ngerti kondisi di pantai. Entah mungkin ada anomali apa, tapi yang jelas kita harus sesegera mungkin menyingkir dari pantai, jika yang dikatakan ibu tadi benar, air laut sampai pinggir warung, bisa dipastikan hartop tidak hanya kena air, tapi bisa tenggelam! Tenggelam bro.. kayak kapal selam. Yang ada malah kayak iklan obat jerawat jeralang, hardtop ku tenggelam, hilang… hilang.. hilang.. hilaaaang…!

Untuk kesekian kali, hartop tetap tidak mau distrarter, cara terakhir yang paling mungkin kami usahakan adalah mendorong hartop ke dekat pintu masuk, dengan harapan di sana kita lebih mudah mencari bantuan. Pikir kami, 4 orang mendorong sebuah mobil bukanlah sebuah pekerjaan yang susah.. dan ternyata memang mudah, hanya dengan sekali hentakan hardtop udah mau gerak. Kami terus mendorong sampai jarak 5 meter hingga kemudian kami tidak kuat lagi.. Kehabisan tenaga? tidak.. karena ternyata pada awalnya mobil mau bergerak maju karena posisi mobil berada di atas dan kami mendorong turun ke arah pantai. Setelah itu, ternyata kami tidak kuat lagi mendorong hartop dikarenakan permukaan pasir pantai yang udah basah. Dan sialnya, kita justru membuat hartop semakin mendekat ke pantai!! Bahkan beberapa kali air laut sudah mengenai ban hartop! panik panik paniiik!

Saya lantas telp om, sementara Feri dan Andi berusaha mencari bengkel. Bhaguz dan Arya mengevakuasi tas berisi kamera dan lensa dan barang barang dari dalam mobil lainnya seperti sepatu, jaket dll untuk menghindari resiko lebih buruk lagi. Beberapa kali om saya telp tidak diangkat. Maklum karena sore itu di rumah sedang mempersiapkan acara partai. Om memang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD untuk periode mendatang. Dan hardtop ini nantinya juga direncanakan akan digunakan untuk alat kampanye juga. Eh di saat sedang acara, hartop dipake keponakan dan kepater lagi -_-. Setelah mencoba beberapa kali akhirenya telp di angkat. Saya berusaha menjelaskan ke Om tentang kondisi saat itu. Om memang tipikal orang nya sangat tenang. Mungkin karena beliau yang memang seorang figur tokoh masyarakat. Jadi yang ada malah om berusaha menenangkan aku bahwa tidak perlu panik dan masalah akan teratasi. Om menduga masalah hardtop tidak bisa distarter adalah karena “masuk angin”.Hanya butuh orang yang mengerti tentang mesin solar, dan mungkin hanya butuh waktu 5 menit untuk membuat hardrop bisa distarter kembali. Saya lantas bilang bahwa teman sudah berusaha mencari bengkel. Dan hanya bisa berdoa semoga segera dapat karena air laut sudah semakin tinggi.

(to be continued..)

Tags: ,

One Response to “Extraordinary Offroad Experience”

  1. sumberilmu says:

    Mantep coy. Asyik banget tuh. Coba ada waktu bisa kya agan. Enak banget dah

Leave a Reply


5 + 8 =