November 17, 2013 2

Going to Cilacap

By in Blog, Trip

Sebagai orang yang hobi memotret, ada motivasi tersendiri ketika bepergian ke suatu tempat. Seperti hal nya ketika mendapat undangan dari Zaini dan Ayu, teman kuliah, untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Selain bisa datang pada acara pernikahan dua orang teman adalah  suatu kebahagiaan tersendiri, Lokasi rumah Ayu, tempat dilangsungkannya pernikahan yang terletak di Kota Cilacap, menjadikan tantangan dan excitement tersendiri mengingat saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota itu. Jangankan menginjakkan kaki, mengendarai mobil sendiri menempuh jarak yang cukup jauh ke arah barat belum penah saya lakukan sebelumnya. Jadi bisa dibayangkan rasa penasarannya tentang bagaimana perjalanan dan suasana di kota tujuan. Apalagi setelah menyempatkan untuk googling lokasi dan tempat wisata di sekitar tumah Ayu, wohoooo.. lokasi rumah Ayu yang terletak di Cilacap tengah ternyata berdekatan dengan bibir pantai di hampir segala penjuru. Iseng iseng cari info pula tentang obyek wisata pantainya. And maaaan… ternyata terdapat pantai pasir putih yang bisa dikunjungi. Ga nyangka aja terdapat pantai pasir putih yang sangat indah yang terletak di dekat kota. Maklum selama ini jika ingin menikmati keindahan pasir putih di Jogja, saya harus menempuh perjalanan setidaknya 60-90km an dengan jalan naik turun yang berliku. Yang tidak lain adalah lokasi pantai di Sepanjang Wonosari. Belum yakin betul akan keindahan pantai ini jika dibandingkan dengan pantai pantai yang sudah sering saya kunjungi di Wonosari, tapi tetap saja.. mana ada Pantai pasir putih yang tidak indah? :D

Saya berangkat tidak sendiri, ada Aveef, teman seperjuangan di AMIKOM English Club dulu yang sekarang sedang sibuk kuliah S2 dan berkompetisi bersama team nya sampai ke luar negeri membawa nama Indonesia, Keren ya? :D . Ada Grace dan Nifa, duo cewek, adik angkatan yang dulu juga sama sama aktif di AEC yang juga teman Ayu dan Zaini. Kami sepakat untuk berangkat dari Jogja sedini mungkin. Alasan utama jelas untuk menghindari macet dan bisa sampai di lokasi acara pernikahan tepat waktu.

Seperti dugaan, perjalanan berlangsung lancar, saya sendiri sangat menikmati perjalanan ini. Walaupun jalan tidak selebar dan selapang seperti perjalanan menuju ke arah Surabaya dari Jogja, namun kembali berada dalam satu mobil bersama teman teman lama yang bisa dibilang sudah cukup lama tidak ada kesempatan untuk bertemu dan ngobrol bareng merupakan quality time tersendiri. Sampai tidak terasa kita sudah melebihi setengah perjalanan dari 190km jarak yang harus kita tempuh dan menyempatkan diri untuk sarapan Soto mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan.

Hmm..aada yang unik dari menu sarapan yang kita makan pagi itu. Pikir kami sih ya cuman soto daging yang sering kita makan. Tapi ternyata instead of dihidangkan dengan nasi, soto yang kita makan saat itu dihidangkan dengan mie yang cukup banyak dan tanpa nasi. Baru sadar juga ternyata menu soto yang kita makan adalah makanan khas daerah sini. Well, rasanya cukup enak. Cocok lah di lidah. Bahan dan rempah yang digunakan sepertinya berbeda dengan soto soto daging pada umumnya. Menurut saya peribadi lebih cocok disebut sop mie daripada soto-mie. Layak untuk diulang kembali jika hendak berkunjung lagi ke Cilacap. :)

Perut sudah kenyang, saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju Cilacap, tidak ada yang benar benar menarik perhatian. Jalanan biasa dan cenderung sempit. Berbeda dengan perjalanan jarak jauh yang selama ini sering saya tempuh. Yogyakarta – Kertosono yang jaraknya hampir sama melewati dua kali hutan dengan jalan berliku dan berkelok kelok. Mungkin cerita akan berbeda jika kita melewati rute Deandles di selatan yang lebih dekat dengan pantai. Hanya saja dari informasi teman, jalan rute jalur selatan rusak parah dan tentunya akan membuat perjalanan kurang nyaman dan menambah waktu tempuh tentunya.

Setelah menempuh perjalanan selama jam. Sampai juga kita di kota Cilacap. Hal berikutnya yang kita lakukan tidak lain adalah mencari rumah Ayu. Lokasinya yang katanya dekat terminal pastinya tidak jauh dari gerbang masuk Kota. Saat kami masuk kota, dari info teman, di kediaman Ayu sendiri sudah dilaksanakan acara Akad Nikah. Ingin rasanya kami bergegas menuju kesana. Tapi rasanya tidak mungkin mengingat Grace dan Nifa masih memakai pakaian santai, sedang Aveef malah belum mandi :v. Akhirnya kita putuskan untuk mencarii masjid terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan memberi kesempatan Aveef untuk mandi atau sekedar cuci muka :p.

Setelah menemukan masjid, Aveef segera bergegas mandi dan berganti baju, begitu pula dengan Nifa dan Grace. Sedang saya sendiri tidak beranjak dari mobil. Bukan malas ganti baju, tapi kata Didi, teman kami satu lagi yang sudah berada di lokasi sejak awal, ada rumah tempat singgah sementara bagi tamu tamu dari luar kota. Tentunya bisa saya manfaatkan untuk berganti baju. Belum lama setelah Aveef, Grace dan Nifa masuk ke masjid, datang beberapa mobil lagi yang ternyata berisi rombongan humas AMIKOM (Mas Fadya dkk). Ternyata waktu keberangkatan kami tidak jauh beda. Hanya saja mungkin karena terdiri dari beberapa mobil, rombongan Mas Fadya melaju agak lambat. Kesempatan itu pula saya manfaatkan untuk menanyakan pada Mas Fadya lokasi rumah Ayu. Ternyata tidak jauh lagi dari sini. Fadya hanya memberikan petunjuk untuk belok kanan dan nantinya akan menemukan kumpulan orang ramai ramai. Karena tidak ingin ketinggalan acara akad nikah dan saya harus berganti baju, saya dan teman teman langsung bergegas menuju lokasi.

Benar memang petunjuk yang diberikan Fadya, hanya beberapa ratus meter setelah belok, ada tenda resepsi beridiri. Cukup pede kami mendekatkan mobil ke lokasi. Untuk memastikan, sebelum parkir saya menanyakan kepada orang di sekitar acara resepsi tentang benar tidak nya ini adalah pernikahan Ayu dan Zaini. Dan ternyata nama yang disebut tidak ada sedikitpun kemiripan dengan nama Ayu dan Zaini. Alias salah orang! Lebih serunya lagi, orang tadi memberi tahu bahwa pada hari tersebut, di lokasi perumahan yang sama, ada Tiga (3) resepsi berbeda yang sedang berlangsung. Wow! Bener bener musim orang Kawin!

Sadar bahwa perjuangan mencari rumah Ayu bakal tidak semudah yang dibayangkan, kita kemudian secepatnya melanjutkan pencarian. Tanpa panduan yang jelas, dan hanya bermodal instinct belaka, cukup lama kita mengitari perumahan, memasuki gang satu demi satu, sampai “kecilik” untuk kedua kalinya sebagai calon tamu salah alamat. Hingga kita putuskan untuk kembali ke jalan raya lagi. Eh ternyata rumah ayu justru di sebelah kompleks perumahan tersebut. Persis di sebelahnya (Ealahhh..). Acara juga sudah cukup ramai dengan kehadiran keluarga dan teman teman dekat Ayu Zaini. Didi teman kita yang sudah terlebih dahulu datang juga sepertinya sedang khidmat mengikuti jalannya prosesi akad nikah. Ingin rasanya segera masuk, tapi kondisi saya masih berpakaian preman. Tapi bukan itu yang sebenarnya menghambat kami, saya sih pede aja masuk. Tapi ada hal “fundamental dan substansial” yang terlupakan dari kami.. Amplop.. yak.. sumbangan. Di acara pernikahan, amplop tidak lain ibarat tiket masuk acara makan gratis. Terlepas dari berapapun isinya bahkan ada tidaknya isinya :v, di musim musim kawin gini amplop sama pentingnya dengan uang di dompet. Walaupun kami yakin Ayu dan Zaini tidak mengharap bahkan mewajibkan setiap tamu apalagi teman dekatnya mengamplopi, tapi urusan satu ini tergantung kekuatan mental untuk menghadapi penerima tamu untuk mengisi buku tamu tanpa memasukkan tiket. Sempat berpikiran untuk memberikan hadiah kepada Ayu dan Zaini setelah acara, setibanya Ayu di Jogja. Tapi biasanya rencana seperti itu tidak ubahnya hanya sekedar rencana. Akhirnya, karena tidak mungkin lagi mencari tiket, kemi memutuskan untuk masuk ke acara pernikahan lewat samping dengan alasan terburu buru ingin melihat mempelai, dan mengisi buku tamunya “nanti-saja” (setelah dapat amplop).

Ternyata acara “pas” selesai, saat kami masuk, para tamu, keluarga dan kedua mempelai sedang memanjatkan doa, saya sendiri sudah tidak punya waktu lagi untuk mengambil gambar. Apalagi sudah banyak teman teman sesama AMIKOM juga yang memang menjadi official fotografer untuk memotret. Bukan tidak ingin mengabadikan momen spesial seperti ini, tapi dari kacamata fotografer official yang bertugas, kadang agak risih juga dengan perilaku dari pihak di luar yang niatnya baik ikut membantu mengambil gambar dengan kameranya sendiri, tapi yang ada justru mengganggu tugas fotografer yang memang punya kewajiban. Sadar bahwa kalo motret kadang saya lepas kendali untuk mendapatkan hasil sebaik mungkin, saya memilih untuk menunggu di luar dan berbincang bersama teman teman. Omong omong saya belum ganti baju. Dan rupanya tempat yang dimaksud Didi untuk singgah dan berganti pakaian, berada di dalam acara resepsi.  Tepat di depan tempat berlangsungnya akad nikah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kalo tadi kami kembali ke rencana awal berganti pakaian di rumah ini. Yang ada mungkin Aveef, Grace dan Nifa langsung ngajak balik.

Menghadiri acara pernikahan teman seperti ini merupakan kebahagiaan tersendiri, apalagi kedua mempelai memang juga sudah teman sejak kuliah. Zaini adalah teman seangkatan yang sama sama bareng menjadi asisten d beberapa mata kuliah. Sedang Ayu adalah adik kelas yang dulunya merupakan teman seperjuangan di Amikom English Club. Walaupun beberapa tahun ini sudah jarang sekali bertemu lagi, tapi dulu kami cukup intens bareng bareng. Bahkan Ayu dan Zaini lah yang dulu sempat saya jadikan percobaan pada awal awal belajar motret prewedding :D . Sempat juga menawarkan pada mereka foto foto prewedding sebenarnya. Dengan kemampuan memotret yang jelas jauh lebih berkembang di banding ketika memotret mereka untuk pertama kali dulu. Ya itung itung sebagai hadiah dari temen. Sayang waktu dan kesempatan tidak memungkinkan. Sepertinya bisa dipertimbangkan untuk post wedding Yuk Zai :D .

Tidak terasa waktu sudah siang. Beberapa tamu sudah beranjak pulang. Ayu sendiri menyuruh kami dan rombongan teman teman lain untuk tetap tinggal dahulu. Mungkin karena di awal belum sempat banyak ngobrol karena datang terlambat. Hanya saja kondisi badan kami saat itu juga sudah cukup letih. Grace dan Nifa sendirinya juga ingin segera ganti baju yang lebih nyaman. Lagian pihak mempelai juga lelah pastinya dan ingin segera istirahat, namun saya sendiri masih belum punya rencana ingin kemana saat itu. Hal yang paling ideal mungkin bersih bersih badan, berbaring sejenak, baru kemudian memikirkan rencana selanjutnya. Tapi dimana? Istirahat di tempat kami duduk jelas ga mungkin, apalagi pinjam kamar pengantin :v. Cari tempat singgah seperti hotel kayaknya juga berlebihan. Apalagi ada dua orang perempuan yang ikut bersama saya. Rencana kami semula memang langsung menjelajah pantai di Cilacap. Daripada sibuk merencanakan yang nantinya tidak sesuai dengan keadaan, saya bertanya kepada ibu ibu yang nampaknya masih keluarga dengan Ayu.

Bukannya mendapat jawaban yang jelas, saya malah semakin bingung dengan pendapat yang berbeda. Salah satu ibu ibu mengatakan bahwa Nusa kambangan (pantai pasir putih yang kita tuju), terletak jauh dan tidak semua orang bisa masuk ke sana. Dan beliau malah menyarankan kami ke Baturaden (yang akhirnya saya tau lokasinya masih jauh ke arah utara). Sedang ibu ibu satunya mengatakan bahwa Pantai Nusa Kambangan sangat bagus dan bisa dimasuki hanya dengan menggunakan jasa penyebrangan dari Teluk Penyu. Hadew.. mana yang benar. Tapi pendapat ibu pertama benar juga. Karena setahu kami, pantai Nusa kambangan adalah penjara narapidana dengan level khusus. Koruptor bahkan Ustadz Abu Bakar Ba’ asyir ditahan di penjara ini. Tentunya tidak semua bisa akses. Sedang ibu kedua juga cukup bisa dipercaya, karena wisata pantai nusa kambangan sudah cukup terkenal, dan rasanya mustahil kalo semua orang yang berkunjung harus melalui ijin yang berbelit dengan riwayat banyaknya wisatawan. Daripada semakin bingung, kami putuskan langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mengecek langsung ke teluk Penyu. Selain Didi yang ikut, Rombongan Yanuar, Igga, dan Dedi juga turut serta. Setelah berpamitan dan ritual foto narsis bareng, kita pun Berangkaat!!

Jarak rumah Ayu ke teluk penyu ternyata hanya 5km an saja. Cukup beruntung juga jadi Ayu jika hanya dengan jalan kaki saja bisa dengan mudah sampai pantai. Hanya saja udara pantai memang cenderung kering dan panas. Kami sendiri sampai di teluk penyu sekitar pukul 2 siang. Jadi bisa dibayangkan betapa panasnya cuaca saat itu. Itu pula yang membuat Grace dan Nifa enggan keluar dari mobil. Tidak masalah, karena misi utama kami saat itu adalah mencari informasi untuk menuju ke pantai nusa kambangan. Saya sendiri sesampainya di pantai langsung beranjak dari mobil dan mencari obyek untuk difoto.

Well, sepintas Pantai Teluk Penyu memang tidak terlalu istimewa, pasirnya hitam, tidak ada karang dan suasana cendrung crowded dengan aktivitas pengunjung yang berlalu lalang dan penduduk sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan sedang menata jala. Perahu perahu nelayan yang berjajaran membuat suasana pantai tampak rampai dan penuh. Namun ada yang cukup unik dari pantai ini, yaitu ada jalan yang dibangun menuju ke laut. Tidak lain adalah tempat untuk memancing, memecah ombak, menangkar binatang laut dan mungkin berlabuh perahu. Dari kejauhan nampak aktivitas beberapa orang yang memancing dan anak anak bermain. Saya pun mendekat.

Aktivitas anak anak yang sedang bermain memang menarik untuk difoto. Di tempat ini saya mendapatkan angle angle unik yang mungkin susah saya dapatkan di tempat lain. Tidak terasa, sekitar setengah jam saya berada di jembatan ini, kasihan teman teman jika harus menunggu terlalu lama. Di perjalanan kembali menuju teman teman saya sempatkan lagi untuk memotret beberapa gambar dan aktivitas nelayan.

Dari informasi yang didapatkan Aveef, ternyata ada layanan antar ke Pulau Nusa Kambangan. Cara paling mudah adalah dengan menggunakan sarana Perahu Tradisional. Yang perlu kami lakukan hanyalah menuju tempat bersandarnya kapal kapal tradisional yang berjarak tidak jauh dari tempat kami parkit. Tanpa pikir panjang lagi, kami segera menuju ke tempat yang ditunjukkan.

Tidak sulit mencari perahu yang siap mengantar, karena sepertinya hanya dengan sekali bertanya pada orang di sekitar situ, pasti akan ada yang siap mencarikan perahu yang siap berangkat. Berhubung jumlah kami kala itu cukup banyak (pas untuk satu perahu), sehingga kita tidak perlu menunggu lagi. Tiap orang ditarik biaya 20ribu untuk pulang pergi. Setelah sepakat, kita pun berangkat.

Naik di kapal seperti ini mengingatkan saya akan pengalaman memotret lumba lumba di Pantai Lovina Bali. Kala itu saya dan Bhaguz juga naik kapal tradisional. Hanya ukurannya lebih kecil. Sehingga cukup terombang ambing. Namun cukup merasa aman karena kami dipinjami jaket pelampung. Sedangkan kapal yang kita naiki ini walau ukurannya lebih besar namun tidak menyediakan jaket pelampung untuk penumpang. Seram juga kalau kalau tiba tiba ada ombak besar datang.

Selama kurang lebih 15 menit perjalanan kita lalui untuk menuju pantai Nusa Kambangan. Mendekati bibir pantai, kita sudah disuguhkan dengan pemandangan yang subhanallah indahnya. Bongkahan batu karang besar disertai tumbuhan hijau menghiasi pandangan. Terasa sangat indah karena hanya dengan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, kita akan melihat pemandangan yang sangat kontras. Pemandangan kota Cilacap dengan cerobong asap pabrik dan bangunan yang penuh di pinggir pantai ibarat kota industri yang sibuk dengan segala aktivitas tidak ramah lingkungannya. Tidak menyangka dibalik itu semua, kota ini masih menyisakan potensi alam yang masih alami dan terbuka bagi siapa saja yang ingin menghilangkan penat. Tidak sabar ingin segera menginjakkan kaki di pulau Nusa Kambangan.

Perahu merapat, satu semi satu dari kita turun. Pantai tempat kita menepi tidak cukup lebar, malah ibarat memang didesain untuk tempat pemberhentian. Namun masih tetap indah. Sangat cukup untuk membuat kita penasaran akan keindahan sisi lain dari pulau ini.

Potensi Wisata Pulau Nusa Kambangan sepertinya sudah cukup terkelola. Terbukti dengan adanya biaya tiket masuk yang dibebankan ke pengunjung sebesar Rp 5.000. Plus fasilitas kereta kelinci yang siap mengantar pengunjung ke tujuan dengan membayar biaya Rp 10.000 per orang. Walau terdapat fasilitas kereta kelinci, jangan dibayangkan akses yang dilalui sudah jalan halus beraspal. Keadaaan alam masih alami begitu pula dengan akses jalannya. Saya hampir tidak percaya sepur kelinci yang notabenya mobil jadi jadian ini dipaksa melaju di medan semi offroad yang berbatu dan sangat bergelombang. Bisa dibayangkan betapa bergoncangnya kereta tanpa shock breaker yang mumpuni dan jok besi ini melewati jalan berbatu dengan kecepatan sedang. Ampuuuun DJ! eh Jokii…

Meskipun kita menggunakan sepur kelinci, jangan harap kita akan diajak berkeliling pulau. Karena kereta ini hanya akan drop anda ke tempat yang diinginkan dan kembali menjemput di waktu yang ditentukan. Di tengah perjalanan sopir akan menawarkan “Pantai Karang Bolong” sebagai tempat pemberhentian pertama. Saya sendiri cukup berminat. Namun penumpang yang lain menghendaki untuk terus jalan. Rugi katanya kalo cuman berhenti di sini :3. Akhirnya kereta pun melanjutkan perjalanan. Berharap kereta akan melaju lebih jauh lagi, ternyata pemberhentian berikutnya hanya berjarak beberapa meter saja dari pantai pertama yang ditawarkan. Sebuah bangunan tua bekas peninggalan masa penjajahan. And thats it! rute menjelajah pulau Nusa Kambangan yang ditawarkan sepur kelinci hanya berhenti sampai di sini.

Selanjutnya jika ingin lanjut kita harus berjalan kaki. Ada dua pilihan jalur yang bisa dilewati, ke arah benteng pendem, atau turun ke pantai. Karena tujuan awal kita memang ingin menikmati suasana pantai pasir putih Pulau Nusa Kambangan, kita memutuskan untuk turun ke pantai.
Well, kalo jujur sih, tidak ada yang benar benar istimewa dari pantai pasir putih ini. Tidak ada something yang menjadi daya tarik utama. Mungkin cerita akan berbeda jika kita mengujungi pantai karang bolong. Walaupun belum yakin, Tapi dari namanya, karang yang bolong jelas menjadi daya tarik utama. Berhubung waktu kita tidak panjang karena jam 5:30 si Didi sudah harus sampai di terminal, saya bergegas mencari spot yang menarik untuk difoto.

Ternyata spot spot nya cukup menarik. Satu hal yang cukup membuat saya cukup asyik memotret adalah adanya tanaman yang tumbuh subur di karang. Komposisinya foreground yang dihasilkan memberikan nuansa tersendiri.

Pantai Nusa Kambangan memang memberikan kesan tersendiri. Bahkan selain potensi pantai yang menarik, pulau ini juga menyimpan peninggalan sejarah yang cukup menarik untuk dijelajahi. Daerah yang masih belum begitu terawat dan terjamah memberikan kesan petualangan dan misteri tersendiri dengan benteng benteng kuno di dalamnya. Apalagi pulau ini juga digunakan sebagai penjara khusus bagi para tawanan negara. Kalau ingin merasa lebih seru, kita bisa sedikit lebay dengan membayangkan ada tahanan kanibal yang lapar kabur dan secara diam diam membuntuti dan mengintai rombongan menunggu saat yang tepat untuk menculik satu per satu anggota hingga tidak bersisa. Muahahaahahahha

Mengunjungi pulau ini jelas bisa jadi agenda wajib bagi anda yang berjunjung ke Cilacap. Potensi keindahan dan misteri yang ada di dalamnya terlalu sayang dilewatkan mengingat jarak tempuh yang sangat dekat dari pusat kota. Sekali berkujung kemungkinan besar kita akan dibuat penasaran dengan obyek wisata yang lain. Jalur masuk pulau dengan berbagai macam alternatif penyebrangan membuat saya sendiri penasaran untuk mencoba semua jalur yang memungkinkan. Dengan harapan mendapatkan akses ke tempat lain yang mungkin tidak kalah menarik.

Yak, sekian catatan perjalanan singkat kami di kota Cilacap. Thanks for reading dan semoga bermanfaat :)

Tags: , ,

2 Responses to “Going to Cilacap”

  1. Hallo mas cendhika! Kenalkan saya ghea, sudah lama sering kepo-kepo mas hihihi. Awalnya di facebook sepertinya, terus sering juga main di blog dan selalu senang baca cerita di blog. Karena sama-sama suka design (meskipun saya masin newbie) dan suka foto, bikin makin hobi untuk kepo. Yasudah, salam kenal ya mas! :D

  2. cendhika says:

    Hallo Ghea, terima kasih kunjungannya. Maaf baru bales. Hasil karya Ghea bagus bagus. Inspiratif. Salam kenal juga ya :)

Leave a Reply


− 4 = 4